•November 16, 2009 •
1 Tanggapan
BATU
oleh : Sutardji Calzoum Bachri
batu mawar
batu langit
batu duka
batu rindu
batu jarum
batu bisu
kaukah itu
teka
teki
yang
tak menepati janji?
Dengan seribu gunung langit tak runtuh dengan seribu perawan
hati tak jatuh dengan seribu sibuk sepi tak mati dengan seribu
beringin ingin tak teduh. Dengan siapa aku mengeluh?
Mengapa jam harus berdenyut sedang darah tak sampai mengapa
gunung harus meletus sedang langit tak sampai mengapa peluk
diketatkan sedang hati tak sampai mengapa tangan melambai sedang
lambai tak sampai. Kau tahu?
batu risau
batu pukau
batu Kau-ku
batu sepi
batu ngilu
batu bisu
kaukah itu
teka
teki
yang
tak menepati janji?
rein melihat batu pukau.. sekejap ada, lalu tiada
Ditulis dalam Pujangga Langit, poetry, rain
Tag: Batu, puisi, Sutardji Calzoum Bachri
•November 12, 2009 •
1 Tanggapan
AKU INGIN
oleh : Sapardi Djoko Damono
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

note: isyarat musikalisasi kesebelas tak pernah sampai di telinga rein..
Ditulis dalam Pujangga Langit, poetry
Tag: aku ingin, musikalisasi, puisi, sapardi djoko damono
•November 11, 2009 •
Tinggalkan sebuah Komentar
Hujan Bulan Juni
oleh : Sapardi Djoko Damono
tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu
tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu
tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu

note:
musikalisasi kesepuluh menghapus jejak rein yang ragu-ragu di jalan itu..
Ditulis dalam Pujangga Langit, poetry
Tag: hujan, Juni, musikalisasi, puisi, sapardi djoko damono
•November 10, 2009 •
1 Tanggapan
NOKTURNO
oleh: Sapardi Djoko Damono
KUBIARKAN CAHAYA BINTANG MEMILIKIMU
KUBIARKAN ANGIN YANG PUCAT
DAN TAK HABIS-HABISNYA
GELISAH
TIBA-TIBA MENJELMA ISYARAT, MEREBUTMU
ENTAH KAPAN KAU BISA KUTANGKAP…

note:
dan rein biarkan isyarat kesembilan musikalisasi ini merebutmu..
Ditulis dalam Pujangga Langit, poetry
Tag: isyarat, nokturno, puisi, sapardi djoko damono
•November 9, 2009 •
Tinggalkan sebuah Komentar
DALAM DIRIKU
oleh: Sapardi Djoko Damono
dalam diriku mengalir
sungai panjang
darah namanya…
dalam diriku menggenang
telaga darah
sukma namanya…
dalam diriku meriak
gelombang suara
hidup namanya…
dan karena hidup itu indah
aku menangis sepuas-puasnya…

note:
rein dan delapan musikalisasi hujan
[menangis sepuas-puasnya, karena hidupku sungguh indah..]
Ditulis dalam Pujangga Langit, poetry
Tag: dalam diriku, puisi, sapardi djoko damono
•November 8, 2009 •
2 Tanggapan
SAJAK KECIL TENTANG CINTA
oleh: Sapardi Djoko Damono
mencintai angin harus menjadi siut
mencintai air harus menjadi ricik
mencintai gunung harus menjadi terjal
mencintai api harus menjadi jilat
mencintai cakrawala harus menebas jarak
mencintaiMu harus menjadi aku
note:
di musikalisasi ke tujuh dan tak bisa kugambarkan CINTA itu..
Ditulis dalam Pujangga Langit, poetry
Tag: cinta, puisi, sapardi djoko damono
•November 7, 2009 •
1 Tanggapan
HUTAN KELABU
oleh: Sapardi Djoko Damono
kau pun kekasihku
langit di mana berakhir setiap pandangan
bermula kepedihan rindu itu
temaram kepadaku semata
memutih dari seribu warna
hujan senandung dalam hutan
lalu kelabu menabuh nyanyian

note:
enam rintik musikalisasi
[kutemui kekasihku hujan, bersenandung dalam hutan kelabu]
Ditulis dalam Pujangga Langit, poetry
Tag: hujan, Hutan, kelabu, puisi, sapardi djoko damono
•November 6, 2009 •
Tinggalkan sebuah Komentar
BUAT NING
oleh: Sapardi Djoko Damono
pasti datangkah semua yang ditunggu
detik-detik berjajar pada mistar yang panjang
barangkali tanpa salam terlebih dahulu
januari mengeras di tembok itu juga
lalu desember…
musim pun masak sebelum menyala cakrawala
tiba-tiba kita bergegas pada jemputan itu

note: segenggam sudah musikalisasi..
[apakah aku akan bergegas pada jemputan itu? tiba-tiba..]
Ditulis dalam Pujangga Langit, poetry
Tag: buat ning, puisi, sapardi djoko damono
•November 5, 2009 •
1 Tanggapan
Ketika Jari-jari Bunga Terluka
oleh: Sapardi Djoko Damono
Ketika Jari-jari bunga terluka
mendadak terasa betapa sengit, cinta kita
cahaya bagai kabut, kabut cahaya
di langit menyisih awan hari ini
di bumi meriap sepi yang purba
ketika kemarau terasa ke bulu-bulu mata
suatu pagi, di sayap kupu-kupu
disayap warna, suara burung
di ranting-ranting cuaca
bulu-bulu cahaya
betapa parah cinta kita
mabuk berjalan diantara
jerit bunga-bunga rekah…
Ketika Jari-jari bunga terbuka
mendadak terasa betapa sengit, cinta kita
cahaya bagai kabut, kabut cahaya
di langit menyisih awan hari ini
di bumi meriap sepi yang purba
ketika kemarau terasa ke bulu-bulu mata

note:
malam ini dengan musikalisasi ke empat
[hujan tiba-tiba turun, ingin hapus luka pada jari-jari bunga itu..]
Ditulis dalam Pujangga Langit, poetry
Tag: bunga terluka, puisi, sapardi djoko damono
•November 4, 2009 •
Tinggalkan sebuah Komentar
Hatiku Selembar Daun
oleh: Sapardi Djoko Damono
hatiku selembar daun melayang jatuh di rumput;
nanti dulu, biarkan aku sejenak terbaring di sini;
ada yang masih ingin kupandang, yang selama ini senantiasa luput;
sesaat adalah abadi sebelum kausapu tamanmu setiap pagi.
Perahu Kertas
Kumpulan Sajak
1982

note:
musikalisasi ketiga yang sampai ditelinga rein
[dan kulihat selembar daun itu jatuh.., seperti hatiku]
Ditulis dalam Pujangga Langit, poetry
Tag: daun, hati, jatuh, musikalisasi, puisi, sapardi djoko damono
REIN DAN MATAHARI